Selasa, 12 April 2016
ceramah you tube 2 :
https://www.youtube.com/watch?v=zpyc8nL40DM
Khutbah Jum'at: Hak Rasulullah Terhadap Kaumnya - Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey
Khutbah Jum'at: Hak Rasulullah Terhadap Kaumnya - Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey
ceramah you tube 1
alamat youtube: https://www.youtube.com/watch?v=6FTLrg4F5hE
ceramah : Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey
segala hal ayang ada di alamsemesta ini. allah pun berjalan dengan hukum itu. menjadikan sunnahynya atas alama semestanya. dmn alam smst tdk akan pernah bisa berjalan di luar jalur yang pernah jadikan sedemikian rupa. ini yang kita kenal dengan sunnatullah. tidak akan ada pengganti sunnatullah, qodar alkhaniah, manusia bertentangan, Allah berkehendak lain dengan kuasanya. seandainya tuhanmu mau maka manusia satu, namun berbeda tidakdemiukian untuk saling harus bertentangan, kecuali orang2 yang dirahmati oleh rabbmu, pertetangan antara yang hak dan yang batil, dengan segala hikmahnya yang tidak dapat di tangkap oleh akal manusia, berangkat dari ikhtilaf :
benturan: iman dan kufur, hak dan batil, sirik dan tauhid, sunnah dan biddah, allah senganja membuat benturan kalo niscaya akan hancur. justru bumi akan hancur jika tidak ada benturan.
timbullah bibit gairah/ semangat dari serangan musuh-mush islam.
tempat2 ibadah, sholat, para ahll hak, tidak ada aderanalin untk membela yang hak karena toh tidak ada kebatilan, kemungkaran yang merongrong kita, yang siap menyerang kita, ahlul hak/maruf akan meninggalkan ahlul tauhid, tidak ada ahli syirik yang menyerangnya.
allah atur dengan segala hikmahnya.
sejrah sejak saman adam selalu ditemukan, barisan2, sebahagian, kebanyakan kaum , selalu memushi dawah yang hak, dari zaman ke zaman, pencambuk dan pemicu adrenalin kaum muslim: siapa yang mau mempertahankan, berjuang, kemurnian ajaran sunnag rasulnya, dunia dan nikmat2nya yang membuat terlena, ahlul bidah, ahlul syirik, akan serting kita temukan demikian, meliahta celah2 yang ada bagi kamu muslimin untuk menyerang,
tidak ridho selamanya kamu yahudi dan nasraniom sehingga ikut dan meninggalkan agama islma
barisan intern islam, khawarij pada masanya, kadariah, syiah, murjiah dan firkah muncuk di kaum muslimin, musuh kita bukan kafuir tapi musuh kita kada ada dalam di barisan kita,
haruskah kita menhabiskan perhatian, waktu tenaga, salahsatu di antara . dan pura2 lupa dengan keberadaan musuh-musuh kita yang lain. syiah rafida. terkonsentrasi permsalahan kita, anjing menggonggong,
syrikL penyembah batu, penyembah keris dll. mush kita begitu banyak, kita perhatikan/teliti satu persatu, umur kita tiedak akan cukup bagi kita untuk menel;iti satu persatu
bagaimana caranya :
menghadapi penyimpangan :
musuh: sebagian ujian allah k epada kaum muslimin,
kualitas individu , sejauh kekuatan gamaku, kepedulian agamaku, sejauh mana kulitas agamaku,
bagaimana caranya mengahdapi :
begitu banyak virus yang merongrong manusia, lalu bagaimana cara menyelsaiaanya, jangan bahas penyakitnya tapi bahas anti bodimu,
aliaran, kenali akidahnu, manjhajmu, kau telah memiliki kekebalan yang baik, akidahmu, tauhidmu, agamau, ajaran rasulmu, lebih mengenal bahasa kafir dari pada bahasa yang alalh turunkan dengan itu kitabnya,
ilmu2 duniawi,
tokoh2 kafir, pemain biola kafir,
mereka tidak mengenal atasnya. aib atasmu,
jgan bunuh, bantah, mana hisabmu sebagai, menjatuhkan romwai dan persia dengan tauhid, kita mengalahkan dengan tauhid, kita tidak
tauhid rububiyah : sekaya apapun makhluknya akan mudah dihabcurkan oleh Allah swt,
seorang bapak dengan ibu anaknya menganggap dirinya kafir.
ya ayyuhaladzina amanu, alaikum amfusukum, atas kalian diri kalian masing-masing, maknanya: kalian bertanggung jawab uruslah diri kalian masing-masing, layaduruukum ...m latadaetum , oarang2 yang tersesat dari jalannya Allah tidak akan menimpakan mudhorat kepada kalian apabila kalian memang berada di atas hidayah maka jangan fikirkan ksesatan yang ada, pusingkan hidayah yang tak pernah sampai ini kamu dapatkan, fikirkan anti bodi, jangan kau fikirkan virus2, tapi fikirkan dirimu apa yang tekah engkau lakukan terhadap agama ini, telah kah kau melaksanakan tugasmu dengan baik sebagai seorang muslim yang mengaku mengikuti rasul Saw, hentikanm keluhanmu tentang pemerintahanmu, sudahkah kau melakukan tugasmu sebagai warga negara yang baik,
karena demi allah tidak akan memimpin seorang gerombolan tikus kecuali tikus, bukan kah Allah Maha Adil kamu akui, tidak akan memimpin golonga singa kecuali singa, mengapa kalian mendapatklan pemerintahan yang demikian karena memang berangkat dari rakyat yang demikian, itu keadilan Allah di alam semesta,
wakadzalika mualli ba;da zalimi ....
demikian kami berikan kuasa terhadap sebahagian zolimin atas zolimin2 yang lain berangkat adi kesoliman yang mereka usahakan,
Senin, 11 April 2016
Tawakal Menghadapi Cobaan Hidup
BERBAGI
Menghadapi cobaan ? Bagaimana islam menuntun kita …
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 214:
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat,,
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat,,
Demikianlah kata pasti yang tak mungkin diubah-ubah sebagai sunnatullah, bahwa seseorang tak mungkin dengan mudah akan masuk surga tanpa adanya derita dan cobaan. Memang adalah suatu konsekuensi logis yang harus diterima oleh setiap insan tanpa pandang bulu, akan menghadapi cobaan. Hidup ini pasti diwarnai dengan derita dan cobaan dalam berbagai bentuk.
Tak seorang pun yang lepas dari padanya. Mau hidup berarti mau pula menerima cobaan dan menghadapi cobaan itu dengan banyak cara. Hidup tanpa cobaan bukan di dunia tempatnya, kelak di sorga Ilahi. Di akheratlah cobaan baru bisa berhenti. Bagi mereka yang medapatkan ampunan Allah akan hidup di sana dengan tenang dan bahagia.
Memang seharusnya seorang muslim memahami benar hidup ini, sebagai medan perjuangan untuk menentukan dan mewarnai hidupnya kelak di kemudian hari. Allah telah memperingatkan dengan jelas dalam surat Al-Ankabut ayat 2:
“Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja dengan mengatakan: “Kami telah beriman,” Padahal mereka belum lagi mendapatkan cobaan.”
Seorang muslim akan merasa hambar hidupnya, tak enak dan tak lezat dan tak ada manisnya bila tak ada cobaan dan rongrongan. Dalam menghadapi cobaan, ia harus sabar dan tahan menderita seraya mujahadah dan berjuang untuk keluar darinya. Berusaha mencari jalan keluar dari cobaan yang menimpa dengan penuh tawakkal. Maka sikapnya itu merupakan tabungan yang tersimpan yang akan diterimanya kelak di kehidupan yang kekal dan abadi.
Karenanya cobaan dan derita hidup disambutnya dengan napas lega dan lapang dada, sambil berserah diri kepada Allah sepenuh hati dengan keyakinan penuh ia percaya bahwa derita itu ditimpakan kepadanya tiada lain hanyalah karena:
Seorang muslim akan senantiasa mengusahakan agar ada keserasian antara ucapan dan tindakannya. Ia tak mau menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang berdusta. Lantang dan lancar tutur lidahnya tetapi lancang hati dan tindakannya di kala cobaan dan derita beraksi menantang.
Seorang muslim akan senantiasa mengusahakan agar ada keserasian antara ucapan dan tindakannya. Ia tak mau menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang berdusta. Lantang dan lancar tutur lidahnya tetapi lancang hati dan tindakannya di kala cobaan dan derita beraksi menantang.
Seorang muslim karena imannya, tak merasa heran berhadapan dengan kehadiran cobaan di tengah-tengah hidupnya yang mau tak mau mesti datang dan tak dapat dielakkannya. Maka ia pun siap menanti dengan pendirian yang kuat dan tekad yang membaja. Sebab itu betapa pun berat cobaan yang menghadang, ucapannya tak akan berubah, tekad hatinya tak akan luntur dan sikapnya tidak akan goyah.
Kaum muslimin yang berbahagia.
Seorang muslim dengan segala daya dan upaya akan melalui cobaan dan derita dengan sabar dan tawakkal sekalipun resikonya berat sekali terhadap dirinya. Dalam keadaan apa pun seluruhnya dikembalikan kepada ilmu dan iradat Allah SWT. Kudrat dan iradat-Nya saja yang akan menjatuhkan vonis keputusan sebagai “Qadar yang tertentu” yang telah diaturnya terlebih dahulu.
Seorang muslim setelah berikhtiar tindakannya hanya sekedar berdoa dan pasrah kepada Allah SWT.
Seorang muslim dengan segala daya dan upaya akan melalui cobaan dan derita dengan sabar dan tawakkal sekalipun resikonya berat sekali terhadap dirinya. Dalam keadaan apa pun seluruhnya dikembalikan kepada ilmu dan iradat Allah SWT. Kudrat dan iradat-Nya saja yang akan menjatuhkan vonis keputusan sebagai “Qadar yang tertentu” yang telah diaturnya terlebih dahulu.
Seorang muslim setelah berikhtiar tindakannya hanya sekedar berdoa dan pasrah kepada Allah SWT.
Dalam menghadapi ujian dan cobaan, seorang muslim tak akan meminta agar dihindarkan dari cobaan sama sekali, karena memang cobaan itu harus ada. Kita pun harus menyadari bahwa cobaan dan ujian bermacam-macam yang semuanya mengandung hikmah yang mendalam bagi kita sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya besar kecilnya pahala, tergantung dari besar kecilnya cobaan, dan kalau Allah sayang kepada satu kaum, Ia senantiasa akan mengirim cobaan. Maka barang siapa yang rela menerima cobaan itu berarti ia mendapatkan ridha Allah. Tetapi barang siapa yang marah karena mendapat cobaan, berarti ia akan mendapat murka Allah.” (HR Ibnu Majah).
Yang penting bagi kita adalah kapan saja kita menerima suatu cobaan, maka kita hadapi dengan tabah disertai dengan ikhtiar untuk mengatasinya kemudian tawakkal berserah diri kepada Allah untuk menantikan keputusannya. Akhirnya sebagai kesimpulan pembicaraan kita ini:
1. Orang-orang yang beriman akan diuji dan dicoba dengan bermacam-macam cobaan dalam hidup ini.
2. Cobaan itu telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu.
3. Dengan cobaan itu akan tersisih antara emas dan loyang, antara padi dan antah.
Yang penting bagi kita adalah kapan saja kita menerima suatu cobaan, maka kita hadapi dengan tabah disertai dengan ikhtiar untuk mengatasinya kemudian tawakkal berserah diri kepada Allah untuk menantikan keputusannya. Akhirnya sebagai kesimpulan pembicaraan kita ini:
1. Orang-orang yang beriman akan diuji dan dicoba dengan bermacam-macam cobaan dalam hidup ini.
2. Cobaan itu telah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu.
3. Dengan cobaan itu akan tersisih antara emas dan loyang, antara padi dan antah.
Sebagai penutup, marilah kita renungkan firman Allah SWT:
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan suatu ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.” (Q.S. Al-Baqarah 155-156).
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT. untuk menghadapi cobaan dengan sabar dan tawakal . Amin
73 Manfaat Dzikir Kepada Allah bagi Manusia
Dzikir atau mengucapkan kata-kata pujian yang mengingat kebesaran Allah SWT, adalah amalan istimewa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dzikir merupakan media yang membuat kehidupan Nabi dan para sahabat benar-benar hidup.
Ibnu al-Qoyyim Rahimahullah mengatakan bahwa dzikir memiliki tujuh puluh tiga manfaat yaitu:
- See more at: http://www.indospiritual.com/artikel_73-manfaat-dzikir-bagi-manusia.html#sthash.KCiAjXn4.dpuf
Ibnu al-Qoyyim Rahimahullah mengatakan bahwa dzikir memiliki tujuh puluh tiga manfaat yaitu:
- See more at: http://www.indospiritual.com/artikel_73-manfaat-dzikir-bagi-manusia.html#sthash.KCiAjXn4.dpuf
- Mengusir setan dan menjadikannya kecewa.
- Membuat Allah ridah.
- Menghilangkan rasa sedih,dan gelisah dari hati manusia.
- Membahagiakan dan melapangkan hati.
- Menguatkan hati dan badan.
- Menyinari wajah dan hati.
- Membuka lahan rezeki.
- Menghiasi orang yang berdzikir dengan pakaian kewibawaan, disenangi dan dicintai manusia.
- Melahirkan kecintaan.
- Mengangkat manusia ke maqam ihsan.
- Melahirkan inabah, ingin kembali kepada Allah.
- Orang yang berdzikir dekat dengan Allah.
- Pembuka semua pintu ilmu.
- Membantu seseorang merasakan kebesaran Allah.
- Menjadikan seorang hamba disebut disisi Allah.
- Menghidupkan hati.
- Menjadi makanan hati dan ruh.
- Membersihkan hati dari kotoran.
- Membersihkan dosa.
- Membuat jiwa dekat dengan Allah.
- Menolong hamba saat kesepian.
- Suara orang yang berdzikir dikenal di langit tertinggi.
- Penyelamat dari azab Allah.
- Menghadirkan ketenangan.
- Menjaga lidah dari perkataan yang dilarang.
- Majlis dzikir adalah majlis malaikat.
- Mendapatkan berkah Allah dimana saja.
- Tidak akan merugi dan menyesal di hari kiamat.
- Berada dibawah naungan Allah dihari kiamat.
- Mendapat pemberian yang paling berharga.
- Dzikir adalah ibadah yang paling afdhal.
- Dzikir adalah bunga dan pohon surga.
- Mendapat kebaikan dan anugerah yang tak terhingga.
- Tidak akan lalai terhadap diri dan Allah pun tidak melalaikannya.
- Dalam dzikir tersimpan kenikmatan surga dunia.
- Mendahului seorang hamba dalam segala situasi dan kondisi.
- Dzikir adalah cahaya di dunia dan ahirat.
- Dzikir sebagai pintu menuju Allah.
- Dzikir merupakan sumber kekuatan qalbu dan kemuliaan jiwa.
- Dzikir merupakan penyatu hati orang beriman dan pemecah hati musuh Allah.
- Mendekatkan kepada ahirat dan menjauhkan dari dunia.
- Menjadikan hati selalu terjaga.
- Dzikir adalah pohon ma’rifat dan pola hidup orang shalih.
- Pahala berdzikir sama dengan berinfak dan berjihad dijalan Allah.
- Dzikir adalah pangkal kesyukuran.
- Mendekatkan jiwa seorang hamba kepada Allah.
- Melembutkan hati.
- Menjadi obat hati.
- Dzikir sebagai modal dasar untuk mencintai Allah.
- Mendatangkan nikmat dan menolak bala.
- Allah dan Malaikatnya mengucapkan shalawat kepada pedzikir.
- Majlis dzikir adalah taman surga.
- Allah membanggakan para pedzikir kepada para malaikat.
- Orang yang berdzikir masuk surga dalam keadaan tersenyum.
- Dzikir adalah tujuan prioritas dari kewajiban beribadah.
- Semua kebaikan ada dalam dzikir.
- Melanggengkan dzikir dapat mengganti ibadah tathawwu’.
- Dzikir menolong untuk berbuat amal ketaatan.
- Menghilangkan rasa berat dan mempermudah yang susah.
- Menghilangkan rasa takut dan menimbulkan ketenangan jiwa.
- Memberikan kekuatan jasad.
- Menolak kefakiran.
- Pedzikir merupakan orang yang pertama bertemu dengan Allah.
- Pedzikir tidak akan dibangkitkan bersama para pendusta.
- Dengan dzikir rumah-rumah surga dibangun, dan kebun-kebun surga ditanami tumbuhan dzikir.
- Penghalang antara hamba dan jahannam.
- Malaikat memintakan ampun bagi orang yang berdzikir.
- Pegunungan dan hamparan bumi bergembira dengan adanya orang yang berdzikir.
- Membersihkan sifat munafik.
- Memberikan kenikmatan tak tertandingi.
- Wajah pedzikir paling cerah didunia dan bersinar di ahirat.
- Dzikir menambah saksi bagi seorang hamba di ahirat.
- Memalingkan seseorang dari membincangkan kebathilan.
- See more at: http://www.indospiritual.com/artikel_73-manfaat-dzikir-bagi-manusia.html#sthash.KCiAjXn4.dpuf
Selasa, 05 April 2016
JUDUL-JUDUL CERAMAH
perjalanan hidup manusia, kisah hidup manusia, menjaga amanah Allah, keluarga modern tapi sakinah, penghalang pintu-pintu rezky, pemuda islam sejati, hijrah menuju Allah, masuk surga tanpa hisab dan azab, jata rezky anda pasti menjadi milik anda, dahulukan Allah jika ingin sukses, TIPS HIDUP SUKSES DI DUNIA, agar tetap semangat dalam kebaikan, semangat mencari rezky yang halal, etos kerja seorang muslim, motivasi ibadah sahabat Nabi, dasar dan tujuan hidup muslim, langkah menuju sukses, nasehat tentang harta dan rezky, keajaiban rezky, sudah kah anda berbuat untuk agama islam, antara takwa dan rezky, penyebab rusaknya amal, islami yang bukan islami, kemuliaan dan kehormatan, mengubvah kebiasaan menjadi luar biasa, hidup dan mati, umat islam jangan saling mengkafirkan dan memaksakan pendapat, golongan musuh syetan, berusaha untuk tidak miskin, ujian kesenangan dunia, kerjasama, amanah Allah k epada seluruh alam semesta, berdoa dengan Al Quran,
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
jangan gagal jadi ayah
menolong agam Allah
kewajiban hamba
menyikapi penyimpangan
hidup mulia dengan islam
Al Quran petunjuk Allah
hal-hal yang menggugurkan amalan
Menggapai kemuliaan dengan kesabaran,
hal-hal yang menjadikan sholat tidak diterima
runtuhnya khilafiyah islamiyah
hakikat kesombongan
menjadi muslim yang amanah
kisah umar Ra
sholatmu adalah imam mu
cita2 tertinggi
kiat hidup sukses dengan berprasangka baik terhadap Allah
Memahami rezeky/risky
kekuatan istighfar solusi dunia dan akhirat
kiat mempersiapkan kematian terindah khusnul khotimah
bagaimana cara hidupmu, begitu cara matimu
Mewaspadai aliran sesat dan ajaran yang merusak moral
pembatal amalan soleh
kajian Al - Amiry (membuat orang menangis pada saat khotbah)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------
jangan gagal jadi ayah
menolong agam Allah
kewajiban hamba
menyikapi penyimpangan
hidup mulia dengan islam
Al Quran petunjuk Allah
hal-hal yang menggugurkan amalan
Menggapai kemuliaan dengan kesabaran,
hal-hal yang menjadikan sholat tidak diterima
runtuhnya khilafiyah islamiyah
hakikat kesombongan
menjadi muslim yang amanah
kisah umar Ra
sholatmu adalah imam mu
cita2 tertinggi
kiat hidup sukses dengan berprasangka baik terhadap Allah
Memahami rezeky/risky
kekuatan istighfar solusi dunia dan akhirat
kiat mempersiapkan kematian terindah khusnul khotimah
bagaimana cara hidupmu, begitu cara matimu
Mewaspadai aliran sesat dan ajaran yang merusak moral
pembatal amalan soleh
kajian Al - Amiry (membuat orang menangis pada saat khotbah)
Kamis, 31 Maret 2016
kisah cerita kaum saba
KESIMPULAN
1. Saba’ adalah nama seorang laki-laki yang kaum Saba’ menisbatkan dirinya kepadanya.
1. Saba’ adalah nama seorang laki-laki yang kaum Saba’ menisbatkan dirinya kepadanya.
2. Karena memiliki bendungan yang sangat besar dan kebun-kebun yang sangat luas, kerajaan Saba’ menjadi sangat makmur dan memiliki bala tentara yang sangat kuat.
3. Kaum Saba’ selama beberapa lama sempat bertauhid kepada Allâh Azza wa Jalla .
4. Mereka tidak bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla dan kembali menyembah matahari dan bintang-bintang, sehingga Allâh Azza wa Jalla menurunkan azabnya dengan menghancurkan bendungan Ma’rib yang mereka buat.
5. Dengan adzab yang Allâh Azza wa Jalla turunkan itu, hancurlah semua kebun yang mereka banggakan selama beratus-ratus tahun dan Allâh Azza wa Jalla gantikan dengan kebun-kebun yang tidak berarti.
6. Kaum Saba’ tidak bisa bertahan dengan keadaan seperti itu, sehingga mengakibatkan hancurnya kerajaan mereka dan berpencarnya sepuluh kabilah kaum Saba’ di daerah Yaman dan Syam.
7. Ini semua adalah balasan bagi orang yang sangat kafir kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mensyukuri nikmat-Nya.
kata pengantar : asrama Haji
1. pengertian syukur
2. jumlah kata syukur di dalam al quran
3. nilai syukur
4. macam-macam nikmat Allah dan cara bersyukur
5. hakikat syukur
6. Buah dari Syukur dan Kerugian Kufur
7. CARA MENUMBUHKAN PERASAAN SYUKUR :
8. kisah dalam al quran dan dalam kehidupan sehari hari
9. pesan - pesan yang ingin di sampaikan dan ajakan-ajakan serta motivasi.
10. penutup
lain-lain
1. asrama haji
2.
1. pengertian syukur
Menurut Dr. M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt.
“Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!”. (H.R Thabrani)
1. pengertian syukur
2. jumlah kata syukur di dalam al quran
3. nilai syukur
4. macam-macam nikmat Allah dan cara bersyukur
5. hakikat syukur
6. Buah dari Syukur dan Kerugian Kufur
7. CARA MENUMBUHKAN PERASAAN SYUKUR :
8. kisah dalam al quran dan dalam kehidupan sehari hari
9. pesan - pesan yang ingin di sampaikan dan ajakan-ajakan serta motivasi.
10. penutup
lain-lain
1. asrama haji
2.
1. pengertian syukur
Menurut Dr. M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt.
“Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!”. (H.R Thabrani)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
syukur (bersyukur) berarti ungkapan rasa terima kasih kepada Allah swt. dengan
membuka atau mengakui bahwa nikmat tersebut berasal dari-Nya. Serta
direalisasikan dalam perbuatan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah,
menggunakan nikmat tersebut sesuai fungsinya, dan berusaha menahan diri dari
larangan-Nya.
2. jumlah kata syukur di dalam al quran
3. nilai syukur
4. macam-macam nikmat Allah dan cara bersyukur
kerangka inti ceramah syukur nikmat
1. pengertian syukur nikmat
Menurut Dr. M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt[3].
2. jumlah kata syukur nikmat dalam al quran
Kata “Syukur” dan yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 75 kali dalam al-Quran. Menariknya, kata al-Quran juga menyebutkan sejumlah yang sama (75 kali) untuk kata “Bala’” (Musibah). Sebagian mufassir mengatakan bahwa sepertinya hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT ingin mengatakan bahwa adanya musibah itu karena kurangnya bersyukur kepada Allah SWT.
3. makna syukur
nilai dari syukur
Terdapat beberapa nilai dari bersyukur menurut Al-Quran sebagai berikut:
Hal ini sesuai dengan salah satu hadits qudsi yang berbunyi[7]:
Menurut Dr. M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt[3].
2. jumlah kata syukur nikmat dalam al quran
Kata “Syukur” dan yang seakar dengannya disebutkan sebanyak 75 kali dalam al-Quran. Menariknya, kata al-Quran juga menyebutkan sejumlah yang sama (75 kali) untuk kata “Bala’” (Musibah). Sebagian mufassir mengatakan bahwa sepertinya hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT ingin mengatakan bahwa adanya musibah itu karena kurangnya bersyukur kepada Allah SWT.
3. makna syukur
Makna Syukur dalam Al-Quran
Banyak manusia stress dalam kegelisahan karena tidak mampu menikmati apa yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman kita terhadap makna syukur atas nikmat Allah. Karena mestinya dia yakin bahwa apa yang diberikan Allah kepadanya adalah yang terbaik untuk dirinya, sehingga dia bersyukur. Rasul saw pernah bersabda bahwa orang yang paling bersyukur ialah manusia yang paling qanaah (menerima pemberian Allah) dalam kehidupannya, sedang manusia yang paling kufur adalah manusia yang rakus dan tamak. Karena orang yang rakus itu tak pernah menikmati yang sudah ia terima, tapi ia masih terus berangan-angan terhadap apa yang belum ia miliki.nilai dari syukur
Terdapat beberapa nilai dari bersyukur menurut Al-Quran sebagai berikut:
- Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang memberikan nikmat bagi diri kita sendiri
- Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang bersiap menerima tambahan nikmat Allah
- Ketika kita bersyukur, sebenarnya kita sedang membentengi diri kita dari siksa Allah (rujuk kembali An-Nisa:147 dan Ibrahim: 7)
- Ketika kita bersyukur, maka kita akan selalu merasa tentram karena merasa semua yang terjadi adalah yang terbaik bagi dirinya menurut Allah SWT.
Hal ini sesuai dengan salah satu hadits qudsi yang berbunyi[7]:
قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ
مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه
الطبرانى عن ابى هريرة)
“Allah
berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau
mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku,
berarti engkau telah mendurhakai Aku!”. (H.R Thabrani)
Sabtu, 19 Maret 2016
ARTI DAN KANDUNGAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG SYUKUR
ARTI
DAN KANDUNGAN AL-QUR’AN DAN HADITS TENTANG SYUKUR
A. Pendahuluan
Allah lah
yang telah mengkaruniakan kepada kita seluruh kenikmatan yang kita rasakan di
dunia ini. Allah memberikan kepada kita rizki, dengannya kita dapat makan dan
minum. Allah mengaruniakan kepada kita pakaian, dengannya kita dapat menutup
aurat dan berhias. Allah menganugerahkan kepada kita tempat tinggal, di
dalamnya kita dapat beristirahat dengan nyaman. Allah memberikan kepada kita
kendaraan, dengannya kita dapat bepergian. Allah juga mengkaruniakan kepada
kita jasad yang sehat, dengannya kita dapat beraktivitas. Allah juga
menempatkan kita di negeri yang aman, damai dan sentosa.
Semuanya itu
adalah kenikmatan yang Allah karuniakan untuk kita. Tidak ada satu pun, dan
sekecil apapun nikmat melainkan itu datang dari Allah. Dan yang lebih berharga
dari itu semua, Allah pula yang mengaruniakan kepada kita nikmat iman dan
islam, nikmat hidayah dan akidah.
Karena
dibalik itu semua, ternyata nikmat juga merupakan ujian bagi kita manusia, apakah
kita akan menjadi hamba-Nya yang bersyukur ataukah menjadi orang yang kufur. Seperti
yang diucapkan oleh Nabi Sulaiman a.s tatkala mendapatkan nikmat, beliau
mengatakan:
“Ini termasuk karunia dari Rabb-ku untuk
mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah mengingkari (nikmat-Nya). Dan
barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan)
dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabb-ku Maha
Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).
Oleh karena
itu, hendaknya kita bersyukur kepada-Nya dan jangan kufur. Hendaknya kita
senantiasa ingat dan jangan lupa. Hendaknya kita selalu taat dan jangan
bermaksiat kepada-Nya. Untuk itulah dalam kesempatan kali ini
kita akan membahas tentang apa itu syukur, bagaimana melakukannya, kepada siapa
kita harus bersyukur, serta apa manfaatnya bagi kita.
B. Pembahasan
1.
Hakikat Syukur
Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa
Arab. Dalam Al-Quran
kata “syukur” dengan
berbagai bentuknya
ditemukan
sebanyak enam puluh empat kali. Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang
yang dikenal sebagai pakar bahasa
Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata
“syukur” mengandung arti “gambaran dalam
benak tentang nikmat dan menampakkannya ke
permukaan”[1].
Kata ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan
sebagai: (1) rasa terima kasih kepada Allah, dan
(2) untunglah (menyatakan
lega,
senang, dan sebagainya)[2].
Menurut Dr. M. Quraish Shihab kata syukur ini berasal
dari kata “syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan
lawan dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup atau melupakan nikmat yang
diberikan oleh Allah swt[3].
Menurut Sudirman Tebba Syukur berarti berterima kasih
kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada manusia. Dan pada
hakikatnya syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Allah dengan hati dan
tindakan[4].
Menurut Fachruddin HS dan Irfan Fachruddin syukur
artinya membalas jasa, menghargai pemberian, serta menggunakan pemberian itu
menurut sewajarnya dan dengan cara yang sebaik-baiknya[5].
Sedangkan menurut Ahmad Mudjib Mahalli syukur merupakan bagian dari pengakuan
terhadap kebaikan dan pemberian yang
kita terima dari sisi-Nya sebagai Tuhan pencipta segala makhluk dan alam
semesta[6].
Selain sebagai ungkapan terima kasih, mengingat Allah
juga merupakan salah satu bentuk syukur kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan salah
satu hadits qudsi yang berbunyi[7]:
قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ
مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه
الطبرانى عن ابى هريرة)
“Allah
berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau
mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku,
berarti engkau telah mendurhakai Aku!”. (H.R Thabrani)
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
syukur (bersyukur) berarti ungkapan rasa terima kasih kepada Allah swt. dengan
membuka atau mengakui bahwa nikmat tersebut berasal dari-Nya. Serta
direalisasikan dalam perbuatan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah,
menggunakan nikmat tersebut sesuai fungsinya, dan berusaha menahan diri dari
larangan-Nya.
2.
Bagaimana Cara Bersyukur
Syukur tidak hanya dengan
mengucapkan pujian bagi Allah (mengatakan Alhamdulillah), akan tetapi
syukur adalah dengan hati, lidah, dan perbuatan. Sebagaimana yang dikatakan
oleh Ibnu Qudamah r.a bahwa, “syukur (yang sebenarnya) adalah dengan
menggunakan hati, lisan (lidah), dan dengan perbuatan anggota badan”[8].
a.
Bersyukur
Dengan Hati
Bersyukur dengan hati dilakukan dengan cara al-I’tiraf
atau senantiasa menyadari, mengakui, mengingat dan menghadirkan dalam hati
bahwa setiap nikmat yang kita rasakan tersebut dari Allah, dan bukan dari siapa
pun. Allah lah, dengan kasih sayang-Nya, keutamaan dan kebaikan-Nya yang telah
memberikannya kepada kita. Ingatlah, kapan pun saat hati kita merasakan hal
itu, berarti hati kita sedang bersyukur kepada Allah.
b.
Bersyukur
Dengan Lidah
Bersyukur dengan lidah dapat dilakukan dengan at-Tahadduts,
yang berarti menyampaikan atau menyebut-nyebut nikmat tersebut, memuji Allah (dengan
mengucapkan Alhamdulillah), serta menisbatkan nikmat itu kepada Allah.
Bukan malah merasa sombong dan berbangga diri dengan kenikmatan itu seolah
semua itu hanyalah hasil jerih payah kita. Seperti dijelaskan dalam firman
Allah dalam surat adh-Dhuha ayat 11 berikut:
وَ اَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّث
“dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah
kamu siarkan”.
c.
Bersyukur
dengan Perbuatan Anggota Badan
Bersyukur dengan perbuatatan anggota
badan adalah
syukur yang paling penting. Ia dilakukan dengan cara menggunakan semua nikmat
tersebut dalam rangka membantu kita di dalam mentaati Allah (ath-Tha’ah).
Kita pakai semua nikmat itu di jalan yang diridhoi oleh pemiliknya. Serta menahan
diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.
Selain itu, Imam Ghazali menegaskan bersyukur kepada
Allah swt atas nikmat yang telah diberikan dengan anggota tubuh meliputi tujuh
anggota yang penting berikut[9]:
1.
Mata, mensyukuri nikmat adanya mata
dengan tidak menggunakannya untuk melihat hal-hal yang maksiat.
2.
Telinga, digunakan hanya utnuk
mendengarkan hal-hal yang baik yang boleh didengar.
3.
Lidah, mensyukurinya dengan banyak
mengucap zikir, puji-pujian kepada Allah swt., dan mengungkapkan nikmat-nikmat
yang telah diberikan Allah sebagaimana firman-Nya dalam surat ad-Dhuha di atas.
4.
Tangan, digunakan untuk melakukan
kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, dan tidak
menggunakannya utnuk hal-hal yang haram.
5.
Perut, dipakai hanya untuk memakan
makanan yang halal dan baik serta tidak berlebih-lebihan (mubadzir).
6.
Kemaluan (seksual), untuki
dipergunakan di jalan yang diridhai Allah (hanya bagi suami istri) dan disertai
dengan niat memelihara diri dari perbuatan haram.
7.
Kaki, digunakan untuk berjalan ke
tempat-tempat yang baik, seperti pergi ke masjid, berhaji ke baitullah, mencari
rezeki yang halal, dan menolong sesama umat manusia.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa bersyukur itu
tidak hanya dengan memuji Allah (dengan mengucapkan lafaz “Alhamdulillah”)
saja, akan tetapi bersyukur juga dilakukan dengan cara mengakuinya dalam hati
bahwa nikmat itu berasal dari Allah serta menggunakan nikmat tersebut untuk
mencari ridha Allah swt.
3.
Kepada Siapa Kita Hendaknya Bersyukur
Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran kita harus ditujukan kepada
Allah Swt. sebagaimana Al-Quran memerintahkan
umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya:
Artinya: “Karena itu, ingatlah
kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku,
dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (Q.S Al-Baqarah: 152)
Serta dalam surat Al-Baqarah ayat 172:
Artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah”.
Perhatikan juga firman
Allah berikut:
Artinya: “......dan
sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan
dikembalikan”. (Q.S al-Ankabuut: 17)
Serta firman Allah
berikut:
Artinya: “Dan
karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu
beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya
(pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”. (Q.S al-Qashash: 73)
Selain ayat-ayat di atas masih banyak lagi firman
Allah yang lain, yang menegaskan kepada kita bahwa hanya kepada Allah lah
seharusnya segala bentuk syukur kita ditujukan.
Namun demikian, walaupun kesyukuran
harus ditujukan kepada Allah, dan
ucapan syukur yang diajarkan adalah “Alhamdulillah” dalam arti “segala
puji (hanya) tertuju kepada Allah”, akan tetapi ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur (berterima
kasih) kepada mereka yang menjadi perantara kehadiran
nikmat Allah. Al-Quran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri
Allah dan mensyukuri kedua orang tua (yang menjadi
perantara kehadiran kita
di pentas dunia ini.) seperti
dalam surat Luqman ayat 14:
Artinya: “Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah
mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu”.
Walaupun
Al-Quran hanya menyebut
kedua orang tua, selain Allah, yang harus
disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa selain
mereka tidak boleh disyukuri. Akan tetapi kita juga diperintahkan untuk
bersyukur (berterima kasih) kepada sesama manusia. Hal ini sesuai dengan sabda
Rasulullah Saw[10]:
وَمَنْ لاَيَشْكُرِ النَّاسَ
لاَيَشْكُرِ اللهَ
“barang siapa yang tidak bersyukur
kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah”. (H.R Ahmad dan
Baihaqi)
Jadi, berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa selain kita harus menisbatkan rasa syukur kita hanya kepada Allah, kita
juga diperintahkan oleh Allah untuk bersyukur (berterima kasih) kepada kedua
orang tua yang telah menjadi perantara kehadiran nikmat Allah berupa kehidupan
ke dunia ini. Selain kepada kedua orang tua, kita juga jangan angkuh dan bodoh.
Walaupun tidak disebutkan secara spesifik tentang bersyukur (berterima kasih)
kepada sesama manusia, tapi kita juga harus berterima kasih kepada siapa saja
(selain kedua orang tua), yang telah menjadi perantara kehadiran nikmat Allah.
Misalnya, bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui teman kita, aktivitas
jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara
untuk mendapatkan nikmat. Dan kita tetap seharusnya berterima kasih kepada
mereka semua.
4.
Buah dari Syukur dan Kerugian Kufur
Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat
syukur kembali kepada orang
yang bersyukur, sedang Allah Swt. sama sekali tidak
memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit
pun dari syukur
makhluk-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Artinya: “........dan Barangsiapa
yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri
dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha
Mulia". (Q.S an-Naml: 40)
Serta dalam surat Luqman ayat 12:
Artinya: “Dan Sesungguhnya telah
Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan
Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk
dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Berdasarkan penjelasan dari ayat di
atas dapat dikatan bahwa sebenarnya semua ungkapan syukur kita kembali dan
membawa kebaikan bagi kita sendiri. Bahkan dengan syukur kita akan mendapatkan pahala
dari Allah. Hal ini seperti diungkapkan oleh Rasulullah saw. dalam salah satu
sabdanya[11]:
عن ابى عبد الله عليه السلام قال : قال
رسول الله صلى الله عليه وسلم : الطاعم الشكر له من الأجر كأجر الصائم المحتسب.
والمعافى الشكر له من الأجر كأجر المبتلى الصبر. والمعطى الشّكر له من الأجر كأجر
المحروم القانعز
“Dari Abu Abdillah a.s, beliau berkata,
“bahwa Rasulullah saw. bersabda, “orang yang menyantap makanan dengan rasa
syukur, maka dia diberi pahala, seperti orang yang berpuasa menjaga dirinya.
Orang yang sehat yang mensyukuri kesehatannya, maka dia diberi pahala, orang
yang menanggung penderitaan (jasmani)-nya dengan sabar. Dan orang yang
memberikan dengan rasa syukur, maka dia mendapat pahala yang sama dengan orang
yang menanggung kerugian dari menjaga diri”. (H.R Abu
Hurairah dan al-Qudha’i)
Selain itu, apabila kita pandai
bersyukur, maka kita juga akan mendapatkan tambahan nikmat dari Allah swt. Sebagaimana
janji-Nya dalam surat Ibrahim: 7
Artinya: “Dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka
Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Namun sebaliknya, apabila kita kufur
nikmat maka yang akan kita dapatkan adalah siksaan dari Allah. Baik itu yang
langsung kita terima di dunia, maupun nanti di akhirat.
Disamping membawa dan menambah
nikmat, pahala, serta karunia kepada umat manusia, syukur juga akan menjauhkan
kita dari musibah dan melindungi kita dari siksa-Nya sebagaimana ditegaskan
oleh Allah dalam firman-nya:
Artinya: “Mengapa
Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? dan Allah adalah Maha
Mensyukuri lagi Maha mengetahui”. (Q.S an-Nisaa’: 147)
5.
Hubungan
Syukur dengan Pendidikan
Setidaknya ada
beberapa hal yang menghubungkan antara syukur dengan dunia pendidikan, yaitu:
a.
Mengajarkan
kepada kita untuk pandai berterima kasih kepada Allah dan orang-orang yang
telah banyak berjasa kepada kita, seperti orang tua, guru, teman, dan
lain-lain;
b.
Mengajarkan
kepada kita bahwa semua yang ada pada diri kita, berupa kecerdasan, itu berasal
dari Allah, seharusnya digunakan untuk mendapatkan ridha-Nya;
c.
Mengajarkan
kepada kita untuk mensinergikan antara pengakuan, perkataan, dan perbuatan kita
dengan menggunakan semua nikmat yang Allah berikan sesuai dengan fungsinya; dan
d.
Jangan
bersikap angkuh, congkak, dan sombong terhadap sesama manusia, karena bisa jadi
melalui perantaraan merekalah kita meraih semua nikmat dari Allah swt.
C.
Simpulan
Syukur
(bersyukur) berarti ungkapan rasa terima kasih kepada Allah swt. dengan membuka
atau mengakui bahwa nikmat tersebut berasal dari-Nya. Serta direalisasikan
dalam perbuatan dengan meningkatkan ketaatan kepada Allah, menggunakan nikmat
tersebut sesuai fungsinya, dan berusaha menahan diri dari larangan-Nya.
Syukur dapat
dilakukan dengan cara, syukur dengan hati dengan senantiasa mengingat Allah
swt., syukur dengan lidah dengan menyebut-nyebut dan mengakui bahwa semua
nikmat yang diterima berasal dari Allah dan membiasakan diri menyebut lafadz “Alhamdulillah”,
serta syukur dengan perbuatan anggota badan dengan menempatkan nikmat sesuai
dengan dungsinya, mentaati perintah-Nya, dan berusaha menjauhkan diri dari
melakukan hal-hal yang dilarang-Nya.
Pada
prinsipnya semua ungkapan syukur kita hanya ditujukan kepada Allah semata. Akan
tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa kita juga diperintahkan oleh
Allah melalui Al-Qur’an dan sabda nabi-Nya untuk bersyukur (berterima kasih)
kepada kedua orang tua dan sesama manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Fachruddin HS dan Irfan Fachruddin.
2001. Pilihan Sabda Rasul (Hadits-hadits Pilihan). Jakarta: Bumi Aksara.
Firdaus AN. 2003. 325 Hadits
Qudsi Pilihan, Jalan Ke Surga. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.
Hasan, Ilyas. 1994. 40 Hadits:
Telaah Imam Khomeini Atas Hadits-hadits Mistis dan Akhlak. Bandung: Mizan.
Mudjab Mahalli, Ahmad. 2002. Membangun
Pribadi Muslim. Jogjakarta: Menara Kudus.
Syuhada, Harjan, dkk. 2011. Qur’an
Hadits Madrasah Aliyah kelas XI. Jakarta: Bumi Aksara.
Tebba, Sudirman. 2008. Bekerja
Dengan Hati: Bagaimana Membangun Etos Kerja Dengan Spiritualitas Religius.
Jakarta: Bee Media Indonesia.
Zacky el-Syafa, Ahmad. 2011. Indeks
Lengkap Hadits. Jakarta: Mutiara Media.
SUMBER LAIN:
Quraish Shihab. 2012. Wawasan
Al-Qur’an: Hakikat Syukur (online):
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur3.html. diakses pada tanggal
27/03/2013. 08:50.
dr. Muhaimin Ashuri. 2011. Memahami Syukur
(online): http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html diakses
pada tanggal 27/03/2013. 08:53.
[1]Quraish Shihab.
2012. Wawasan Al-Qur’an: Hakikat Syukur (online):
http://media.isnet.org/islam/Quraish/Wawasan/Syukur3.html. diakses pada tanggal
27/03/2013. 08:50.
[2] dr. Muhaimin Ashuri. 2011. Memahami Syukur
(online): http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/memahami-syukur.html diakses
pada tanggal 27/03/2013. 08:53.
[3] Ahmad Zacky el-Syafa, Indeks
Lengkap Hadits, Mutiara Media, (Jakarta: 2011), hlm: 570.
[4] Sudirman Tebba, Bekerja
Dengan Hati: Bagaimana Membangun Etos Kerja Dengan Spiritualitas Religius,
Bee Media Indonesia, (Jakarta: 2008), hlm: 87.
[5] Facruddin HS dan Irfan
Fachruddin (penerjemah), Pilihan Sabda Rasul, Bumi Aksara, (Jakarta:
2001), hlm: 11.
[6] Ahmad Mudjib Mahalli, Membangun
Pribadi Muslim, Menara Kudus, (Jogjakarta: 2002), hlm: 116.
[7] Firdaus A.N, 325 Hadits Qudsi
Pilihan: Jalan ke Surga, Pedoman Ilmu Jaya, (Jakarta: 2003), hlm: 77.
[8] Ilyas Hasan (penerjemah), 40
Hadits Telaah Imam Khomeini Atas Hadits-hadits Mistis dan Akhlak, Mizan,
(Bandung: 1994), hlm: 16. Lihat juga dalam Quraish Shihab. 2012. Wawasan
Al-Qur’an: Hakikat Syukur. Lihat juga dalam Ahmad Zacky el-Syafa, Indeks
Lengkap Hadits, Mutiara Media, (Jakarta: 2011), hlm: 570-571.
[9] Harjan Syuhada dkk, Qur’an
Hadits Madrasah Aliyah kelas XI, Bumi Aksara, (Jakarta: 2011), hlm: 10.
[11] Ibid, (Ilyas
Hasan (penerjemah), 40 Hadits Telaah Imam Khomeini Atas Hadits-hadits Mistis
dan Akhlak......), hlm: 21.
Langganan:
Komentar (Atom)
